Jumat, 29 Maret 2013

aku bukan kutu buku




            Entah sejak kapan aku mengenalnya, yang jelas kehadirannya dalam hidupku membuat hari-hari ku selalu penuh warna, canda tawa, bahkan kadang air mata. Dia bernama..... buku.
            Tidak butuh proses lama untuk mengenalnya. Awal aku berjumpa dengannya disebuah perpustakaan, dia berjajar dengan teramat rapi. Tiba-tiba, entah mengapa aku ingin sekali mengambilnya, untuk mengenalnya lebih jauh. Setelah aku buka, aku pun menemukan sesuatu yang tak pernah aku tahu sebelumnya. Mulai saat itulah aku bersahabat dengan buku. Kemana pun aku pergi, dia selalu ada bersamaku.
            Awalnya hanya buku dongeng yang aku baca, maklum, waktu itu aku masih duduk di sekolah dasar. Seiring berjalannya waktu, aku mulai melahap berbagai jenis buku. Mulai dari novel, sastra, majalah, sampai  koran pembungkus gorengan pun aku baca karena di daerahku masih jarang sekali buku.
            Aku ingat, saat aku masih duduk di sekolah dasar, kakakku membawa novel Siti Nurbaya dan Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Karena saking tidak adanya buku, maka aku baca semua. Padahal, itu masuk dalam kategori sastra. Pada waktu SMP, aku masih setia dengan buku. Karena yang ada di sekolahku hanyalah buku dongeng nusantara, mau tidak mau, aku hanya membaca itu. Padahal, aku sangat ingin membaca novel. Di SMA, aku mulai mendapatkan kemudahan. Awalnya memang hanya buku sastra yang kubaca, tapi saat itu, alhamdulillah, salah satu ekstrakurikuler di sekolahku berlangganan majalah Annida. Rubrik yang paling aku sukai adalah info buku dan resensi buku. Dari sanalah aku mulai mengenal banyak buku, meski hanya sinopsisnya saja yang dapat aku baca. Aku yakin suatu saat aku akan membaca buku itu.
            Kadang aku iseng mengikuti kuis resensi buku, Alhamdulillah, pada saat itu aku beruntung dan menang. Perasaan haru dan senang bercampur dalan hatiku, karena untuk pertama kalinya aku mempunyai buku hasil dari keringatku sendiri. Saat itu, aku hadiahkan buku tersebut kepada salah seorang guru favoritku. Subhanallah, setelah kejadian itu, Beliau mengajakku untuk mendirikan sebuah organisasi yang bertujuan untuk menumbuhkan minat baca di sekolahku. Namanya, RECICA (Remaja Cinta Baca), organisasi yang kami rintis dari awal. Bermula hanya lima orang saja yang berminat, setiap momen kami selalu mengadakan pengumuman dan Alhamdulillah anggotanya bertambah menjadi 30  orang. Berbekal semangat dan tekad, akhirnya kami bisa membeli beberapa buku hasil dari iuran para anggota.
            Saat itulah, novel-novel yang dulu hanya bisa aku baca resensinya, ada di dalam genggamanku. Tigak kuat rasanya, aku ingin segera melahapnya. Bahkan aku pernah menjadi duta baca di sekolah yang bertugas mengajak para siswa agar suka membaca.
            Hal terberat yang aku alami adalah, saat menjelang Ujian Nasional (UN). Sementara aku harus berkutat dengan contoh soal-soal, di pojok meja belajarku telah bertumpuk beberapa novel yang ingin segera aku selesaikan. Alhasil, karena saking tidak kuatnya, aku membuat perjanjian dengan diriku sendiri. Jika berhasil mengerjakan soal, hadiahnya ku boleh membaca novel. Begitulah, berawal dari motivasi membaca, aku semakin giat belajar.
######
            Jika ditanya buku apa yang paling menginspirasiku, kurasa aku akan menjawab, Laskar Pelangi. Saat mulai putus asa dengan mimpi-mimpi, dengan masa depan yang serba tidak jelas, Laskar Pelangi hadir dengan sejuta energi yang mampu membangkitkan kembali mimpi-mimpiku. Aku masih ingat kata-kata yang menginspirasiku, “ kejar pelangimu sampai ke ujung dunia”. Sejak saat itu aku selalu berani bermimpi. Mimpi yang bukan hanya sekedar angan, tapi, mimpi yang pasti akan aku wujudkan menjadi kenyataan. Seperti halnya Ikal.
            Entah mengapa, saat membaca novel, ada sesnasi tersendiri yang aku rasakan. Aku seperti hanyut bersama alur ceritanya, bahkan terkadang aku tidak menghiraukan apa pun, ajakan atau pun panggilan dari teman-temanku. Tak ayal kadang mereka jadi ngambek. Pernah suatu kali, aku keasyikan membaca buku sampai lupa mengerjakan pekerjaan rumah, tentu saja ibuku marah-marah. Akibatnya, semua buku disembunyikan dan untuk menebusnya aku harus mengeluarkan jurus air mata buaya. He..he.
            Dulu, aku tidak mempunyai anggaran untuk membeli buku. Namun tetap ada cara untuk tetap membaca, yaitu dengan meminjam ke perpustakaan. Butuh waktu berhari-hari untuk mengantri sebuah judul buku. Akhirnya aku mencari cara lain, menjadi asisten pustakawati. Why not!? Setelah menawarkan diri untuk menjadi asisten pustakawati kepada pihak sekolah, Alhamdulillah keinginanku terpenuhi. Sejak saat itu, meski harus pulang telat ke rumah, tak masalah bagiku asalkan aku bisa menjadi orang yang pertama membaca buku-buku sebelum orang lain tahu. Bahkan, teman-temanku yang alergi membaca, mereka tinggal mengorek keterangan dariku dan semuanya beres. Betapa indahnya ketika kita dapat berbagi ilmu dengan teman-teman. Tapi aku bertekad, bahwa kelak suatu saat nanti mereka akan menjadi penggila buku sepertiku.
            Sejak saat itulah teman-temanku memberikan gelar ‘kutu buku’. Awalnya, aku masih terima-terima saja, namun setelah aku teliti, bukankah kutu itu adalah makhluk jorok dan merugikan? Segera saja aku mengadakan semacam konferensi pers bahwa aku bukan lagi ‘kutu buku’, melainkan pencinta buku. Berbeda dengan para pencinta buku yang lain, aku tidak berpenampilan culun dengan kacamata berlensa tebal. Penampilanku tetap biasa saja, tidak jauh berbeda dengan teman-teman yang lain karena aku ingin membuktikan bahwa orang yang sering berkutat dengan buku bukan berarti selalu kuper, justru mereka adalah para pemegang kunci jendela dunia dengan segudang ilmu dan pengetahuan yang mereka punya.
######
            Selalu ada kejutan disetiap episode kehidupan kita. Begitulah yang aku rasakan saat ini. Saat aku harus memasuki dunia pesantren, Negeri 5 Menara karya A. Fuadi hadir di sisiku. Menerangkan padaku bahwa kehidupan pesantren bukanlah hanya sebatas pergaulan di asrama dan berjuta peraturan, namun juga menawarkan keindahan- keindahan lain serta persahabatan.
            Di tempat ini, aku menemukan sebuah tempat dimana aku bisa berenang sepuasnya dalam lautan ilmu yang letaknya persis di belakang asrama dimana aku tinggal. Ya, perpustakaan. Di dalamnya tersimpan banyak mahakarya anak bangsa. Rak demi rak aku susuri dengan perasaan tidak sabar untuk segera melahap habis semuanya. Kemudian, ada satu rak yang membuatku tersenyum haru saat aku melintasinya, aku terpana. Kata ‘fiksi’ tertulis jelas di sana. Entah kenapa, aku pun merinding begitu aku membaca satu persatu judul buku yang dulu hanya impian bagiku untuk membacanya. Mipiku menjadi nyata, batinku saat itu. Aku samasekali tidak menyangka, perjalanan panjang yang awalnya tidak aku inginkan ternyata telah membawaku untuk  mewujudkan salah satu mimpiku yang sangat berharga.
            Di sini, tempat dimana terdapat berjuta ilmu yang bermanfaat, di tempat dimana aku menghafal kalam-kalamNya, aku tak hanya menemukan buku-buku yang aku inginkan namun aku juga berkesempatan bertemu dengan para penulis hebat yang terkenal. Dulu, aku hanya mendengar namanya dan membaca karya-karyanya, kini mereka hadir di hadapanku, memberikan motivasi untuk tidak sekedar membaca tapi juga menulis. Kelak karyaku nanti akan memberikan banyak manfaat untuk orang lain. Aku pun berazzam, suatu saat nanti aku bukan hanya seorang pembaca, tapi juga seorang penulis hebat.
            Banyak sekali pengalaman yang aku dapatkan dari membaca buku. Buku-buku karya Tere-Liye telah mengajarkanku tentang kehidupan. Dengan karyanya, Kang Abik mengajariku tentang mencintai menurut aturanNya. Andre Hirata membuatku berani terus bermimpi dan dari buku A. Fuadi aku belajar bagaimana kerja keras dan bahwa pengorbanan akan menghantarkan kita pada kesuksesan.
            Seberapa pun hebatnya karya-karya mereka, masih ada satu lagi buku yang jauh lebih hebat dan berharga. Ia tak hanya sebatas mengajarkan tentang kehidupan, tapi juga mengajarkan tentang bagaimana proses penciptaan alam semesta beserta isinya, tentang adanya kehidupan setelah mati, serta banyak lagi hal lainnya yang membuat kita akan semakin taat dan mencintaiNya. Membacanya membuat hati ini tentram, ialah kumpulan surat cinta dari Sang Penguasa Alam Semesta kepada para hambaNya, Al-Qur’an. Iqro’. Itulah wahyu pertama yang diturunkan yang artinya bacalah. Itu merupakan perintah Nya kepada hamba-hambaNya yang tidak hanya sekedar perintah. Bagaimana mungkin kita dapat menolak untuk tidak mengerjakan perintah Nya. Maka, saksikanlah, aku pasti akan memenuhi seruan itu dan aku akan teriakkan denan keras dan lantang, “aku mencintai buku!!”
######


Tidak ada komentar:

Posting Komentar