Kamis, 31 Maret 2016

TINGKAT ISLAMIC FINANCIAL LITERACY MAHASISWA MUSLIM

Sumiyati (STEI SEBI)
uminomic@gmail.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat melek keuangan Islam pada mahasiswa muslim di Jabodetabek. Yang diukur melalui 5 indikator yaitu, pengetahuan umum keuangan Islam, simpanan dan pinjaman dalam Islam, asuransi syariah, investasi syariah dan falah. Selain itu, penelitian ini juga akan menjawab apakah terdapat perbedaan tingkatmelek keuangan Islam berdasarkan jenis kelamin, jurusan, nilai IPK dan tempat tinggal. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif dan chi square dengan menggunakan bantuan software SPSS 22.00. Hasil analisis data dalam penelitian ini menunjukkan bahwa, tingkat melek keuangan Islam mahasiswa muslim di Jabodetabek berada dalam kategori rendah dengan skor 58.19%. Berdasarkan indikator yang diukur aspek pengetahun umum keuangan Islam berada pada kategori sedang dengan skor 62.77%, aspek simpanan dan pinjaman dalam Islam kategori sedang dengan skor 73.61%, aspek asuransi syariah juga berada dalam kategori sedang dengan skor 66.25%, sedangkan pada aspek investasi syariah dan falah berada pada kategori rendah dengan masing-masing skor 38.33% dan 50%.Berdasarkan uji hipotesis terdapat perbedaan melek keuangan Islam berdasarkan jenis kelamin, jurusan dan tempat tinggal, dan tidak terdapat perbedaan melek keuangan Islam berdasarkan nilai IPK.
Kata Kunci: jenis kelamin, jurusan, nilai ipk, tempat tinggal, mahasiswa muslim, melek keuangan Islam



Minggu, 17 Januari 2016

Semulia Julaibib

Ini kisah tetang seorang sahabat yang darinya kita akan belajar bahwa fisik bukanlah ukuran kemuliaan seseorang. Namanya Julaibib, pendek, hitam, jelek dan tidak bertahta. Julaibib selalu minder ketika Rasulallah menanyakan perihal pernikahan 
“aku ini tidak laku ya Rasulallah” 
lau kemudian Rasulallah menjawab “wahai Julaibib kamu laku di mata Allah”.
Hingga kemudian Rasulallah menemui salah seorang sahabat. Aku ingin meminang puterimu, sahabat tersebut teramat bahagia karena puterinya akan dinikahi oleh seorang rasul, tapi bukan untuk aku melainkan untuk Julaibib. Julaibib ya Rasulallah, wajah sahabat tersebut seketika murung. Hal inipun disampaikan kepada sang istri, maka tanggapan sang istripun tidak jauh berbeda. Namun sang putri yag mendengan percakapa tersebut berkata “ bagaimana mungkin aku menolak pilihan Rasulallah”. Maka menikahlah Julaibib dan wanita sholehah tersebut, wanita yang tidak menjadikan fisisk sebagai barometer utama dalam memilih pasangan hisup.
Suatu ketika, saat datang panggilan jihad di perang uhud Julaibib pun ikut serta di dalamnya. Saat perang perang berakhir, Rasulallah bertanya kepada sahabat, “wahai sahabat siapa diantara kalian yang syahid. Satu persatu sahabat menyebutkan nama sahabat yang syahid para perang uhud”.
Dan Rasulallah berkata “dimana Julaibib, adakah yang melihat dia?.
maka sahabat pun mencari Julaibib. Julaibib ditemukan syahid diantara para musyrikin, Rasulallah teramat merasa kehilangan dan berkata “ Julaibib adalah bagian dari ku, dan aku adalah bagian dari Julaibib” .
MasyaAllah Rasulallah menggambarkan betapa beliau teramat dekat denga Julaibib. Dan Julaibib seorang yag tidak dikenal di bumi, namun justeru dikenal di langit. Di dunia ia mendapatkan isteri yag sholihah dan di akhirat mendapatkan bidadari yang telah Allah persiapkan dari balasan syahidnya.
dari kisah ini mari kita belajar, bahwa fisik bukanlah ukuran kemuliaan seseorang. Tampilan yang kita miliki adalah takdir dari Allah, sedangkan kualitas keimanan adalah sebuah proses yang tidak semua orang mampu mendapatkannya.
*sumber: kemanakah kulabuhkan hati ini, parenting nabawiyyah