Minggu, 27 Oktober 2013

KETIKA PENGHAFAL QUR’AN MEROKOK dan PACARAN



Dimanapun, kapanpun Allah selalu memberikan kesempatan kita untuk terus belajar, belajar menjadi guru yang  baik, adik yang baik, kakak  yang baik, teman yang baik, mahasiswa yang baik, partner kerja yang baik. Setiap hari rasanya tak lepas dari pembelajaran itu karena hakikatnya manusia manusia memang adalah seorang pembelajar, karena hanya dengan belajar kita akan bisa memahami hakikat kehidupan ini. seperti halnya hari ini Allah menunjukkan kasih sayangnya kepada saya, Allah ingin agar saya belajar ikhlas dan sabar.
Saya punya seorang teman yang hafal Qur’an, Subhanallah pandangan orang terhadap penghafal Qur’an pastilah berakhlak yang baik, tutur katanya sopan, selalu menjaga diri dari kemaksiatan dan hal-hal yang syubhat karena dia tahu betul jika sedikit saja kemaksiatan yang dia lakukan akan menghilangkan hafalannya. Manusia itu tempatnya salah dan dosa, seringkali alasan inilah yang menjadikan pembenaran terhadap kesalahan yang dilakukan oleh manusia, sayapun setuju dengan hal ini namun jika kesalahan yang kita lakukan terlalu sering dilakukan bahkan sudah menjadi hal yang biasa saja, pantaskah ini disebut sebagai kekhilafan? Seorang teman saya yang penghafal Qur’an ini masih merokok bahkan pacaran, mungkin dikalangan sebagain ulama atau kyai memang masih ada yang membolehkan merokok. Karena pernah suatu ketika saya menanyakan kok masih ngerokok sih, bukannya fatwa MUI sudah mengharamkan yah? Teman saya menjawab memangnya sudah berapa kitab yang kamu baca sampai bisa mengatakan rokok itu haram, masih banyak kyai yang pemahaman agamanya mendalam toh mereka masih merokok. Saya tidak bisa berkomentar karena saya menyadari belum membaca kitab apapun. Tentang pacaran juga pernah saya tanyakan, apalagi di Al-Qur’an juga sudah jelas “janganlah engkau mendekati zina”, saya yakin dia sudah faham betul apa makna dari ayat tersebut.
Disatu sisi saya merasa bangga punya seorang teman yang hafal Al-Qur’an, namun disisi lain saya sedih karena setiap kali saya memberikan nasehat pasti dijawab pula dengan dalil-dalil Al qur’an yang dia keluarkan, saya pun tidak bisa berkutik karena secara keilmuan dia jauh lebih dari saya. Namu hal ini menjadi kekhawatiran bagi saya, saya sangat menyayangkan dengan kedalaman ilmu agamanya teman saya justru terperosok dalam sebuah kemaksiatan. Saya ingat perkataan seorang ustadz “jika seorang penghahafal al qur’an hanya menghafal sebatas tenggorokannya saja maka celakalah dia”. Jika Al-Qur’an hanya dihafal tanpa dimaknai dan diaplikasikan dalam perbuatan mungkin akan seperti inilah hasilnya, saya hanya berharap dan selalu berdoa semoga Allah membukakan pintu hati teman saya untuk segera kembali pada kebenaran.wallahua’lam

2 komentar:

  1. begitulah mbak yaa.. ujian dalam menghafal qur'an itu memang berat.. untuk semua org sii sebenarnya.. semoga kita semua kuat melawan berbagai godaan amiin

    BalasHapus
  2. Aamiin semoga kita bisa istiqomah berqur'an dan menjaga diri dr kemaksiatan

    BalasHapus