Rabu, 11 Juni 2014

Memaknai Kembali Keikhlasan Kita


Never ending learning begitulah sejatinya hidup, setiap detik, menit, jam dan hari-hari yang kita lalui tidak terlepas dari pelajaran-pelajaran kehidupan. Hikmah atau pelajaran hidup dapat kita ambil pada setiap momentum apapun, entah itu dalam keadaan senang ataupun sedih. Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa “orang yang cerdas adalah orang yang dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian hidup”. Hari ini saya mendapatkan sebuah kata mutiara dari seorang teman yang dia posting d grup whatsapp, seperti inilah kira-kira bunyinya:
Ikhlas itu ketika hasil tak sebanding usaha dan harapan,
tak membuatmu menyesali amal dan tenggelam dalam kesedihan
Ikhlas itu ketika amal tidak disambut apresiasi sebanding,
 tak membuatmu urung bertanding
Empat baris kata diatas mengingatkan saya kembali pada sebuah makna keikhlasan. Sudah ikhlaskah saya selama ini?. pembahasan ikhlas memang bukanlah hal yang tabu, karena begitu penting dan sulitnya memaknai sebuah keikhlasan  maka tema ini pun tak pernah habis di bahas dalam setiap pengajian atau tausiyah-tausiyah.  
Tentang sebuah keikhlasan, saya teringat sebuah peristiwa yang saya alami sehari yang lalu. Kemarin adalah hari yang saya nantikan,  karena akan ada pengumuman pemenang lomba karya tulis ilmiah yang saya ikuti. Dari sejak pagi hingga sore saya terus nongkrongin website namun tak juga ada berita pengumuman, setelah saya konfirmasi kepada panitia ternyata pengumuman diposting pada jam 19.00. Harap-harap cemas saya menanti, sampai akhirnya pukul 19.00 saya berhasil membuka website tersebut, dan sudah ada 15 pemenang yang akan maju pada babak selanjutnya. Satu sampai lima belas saya teliti satu per satu tidak ada nama saya tertera di sana, karena masih penasaran akhirnya untuk yang kedua kalinya saya memastikan lagi dan tetap tidak ada nama saya tertera disana. Saya duduk tertunduk lemas, kemenangan yang saya bayangkan berakhir sudah.
Apakah saya kecewa? Yah saya kecewa, saya sudah berusaha melalukan yang terbaik namun ternyata hasilnya seperti ini. meski kekecewaan itu tidak saya ungkapkan kepada teman yang lain, namun rasa kecewa itu saya simpan. Sampai akhirnya saya mendapatkan sebuah tamparan dari kata-kata bijak diatas. Ketika kekalahan ini menjadikan saya tenggelam dalam kesedihan maka pertanda saya belum ikhlas melakukan semua ini, mungkin saja yang saya lakukan adalah hanya untuk mendapatka prestise dari kampus, teman atau beberapa dosen. Astagfirullah…..lagi-lagi hari ini saya belajar memaknai sebuah keikhlasan. Tanpa dasar keikhlasan semua hal apapun yang kita lakukan akan berujung pada kekecewaan dan kelelahan, saat tidak ada lagi yang memuji rasa lelah itu akan hadir, saat tak ada hasil rasa kecewa itu akan hadir. Namun saat kita mengikhlaskan semuanya karena Allah, kondisi apapun yang kita alami akan dinikmati sebab Allah menilai hambaNya bukan dari hasil melainkan dari usaha. ketika kita telah melakukan yang terbaik meski hasilnya belum maksimal. Yakinlah Allah mencatat semua jeri payah yang telah kita lakukan.
Akhirnya saya ingin katakan bahwa berharap kepada selain Allah hanya akan menimbulkan kekecewaan, berharap hanya kepada Allah mendatangkan kebahagiaan. So…berharaplah hanya kepada sang pemberi harapan, dan tentang sebuah keikhlasan mari kita belajar dari surat Al-ikhlas. Surat yang di dalamnya tidak pernah ada kata ikhlas namun disebut surat Al-ikhlas. Begitu juga dengan sebuah keikhlasan, ikhlas itu tak pernah terucap namun tertanam dalam hati. Semoga kita menjadi pribadi-pribadi yang senantiasa ikhlas dalam melakuakn segala amal perbuatan, ikhlas karenaNya tanpa mengharap selain dariNya. Waallahua’lam.

Perpustakaan, 11 Juni 2014
Dalam sunyi mengharap Ridho-Mu