Rabu, 08 Oktober 2014

Dulu Mutarabbi Sekarang Murabbi


Ketika pertama kali mengikuti halaqoh saya membayangkan akan mendapatkan Murabbi yang sempurna, kafa’ah keilmuannya memadai, supel, ceria, ramah dan care. Cerita yang saya dapatkan dari teman yang lebih dahulu mengikuti halaqoh adalah demikian, maka tak heran jika saya mendambakan hal semacamnya. Mulai lah hari pertama saya halaqoh, pertemuan pertama tidak memberikan kesan yang begitu mendalam, pun dipertemuan selanjutnya. Pertemuan-pertemuan berikutnya bertambah kosong, sang murabbi sering izin jadilah halaqoh kami hambar, materi yang saya dapatkan juga itu-itu saja tidak sesuai dengan manhaj, pertemuan halaqoh hanya satu jam, tidak ada sesi curhat/Qodoyah, Murabbi selalu terkesan terburu-buru ingin mengakhiri halaqohnya. saya tidak merasakan apa yang teman saya rasakan ketika menceritakan halaqohnya yang penuh dengan kegembiraan.
Pernah suatu ketika saya memberikan ancaman kepada seorang teman, kalau kondisi halaqoh seperti ini terus, saya tidak akan pernah mau halaqoh lagi. selama 6 bulan saya merasakan hampa dalam setiap pertemuan haalqoh,. Sering saya menyalahkan Murabbi dan menyalahkan keadaan kenapa saya tidak mendapatkan Murabbi yang lebih baik.
Dulu Mutarabbi sekarng Murbbi, begitulah ketika dulu menjadi Mutarabbi saya banyak menuntut ingin halaqoh yang seperti ini lah, harus begitu lah dan sekarang saat saya menjadi seorang Murabbi saya merasakan bahwa Murabbi bukan malaikat, Murabbi hanyalah manusia biasa yang diberikan amanah untuk membina, pun bukan berarti karena Murabbi lebih luas ilmunya namun karena Murabbi sudah lebih dahulu merasakan pembinaan dan akhirnya membina. Dalam hal keilmuan juga tidak mesti Murabbi yang paling tau segalanya, bisa jadi Mutarabbi lebih pandai dalam beberapa hal ketimbang Murabbinya, itu hal yang wajar karena halaqoh adalah sarana tempat kita belajar dan media belajar tidak mesti harus Murabbi bisa jadi berasal dari teman halaqoh.
Murabbi saya tidak bisa menyampaikan materi, kurang asyik, terlalu serius, kritik ini pernah saya sampikan kepada seorang teman, dan kini saat  saya menjadi Murabbi saya sadar, saya bukan seorang public speaking yang baik, bahkan meyampaikan materi dipertemuan selanjutnya saya harus mempelajarinya minimal 3 hari sebelum pertemuan. Saya membayangkan Murabbi saya pun seperti itu, berusaha menyampikan materi dengan sebaik-baiknya namun sekali lagi Murabbi bukan dewa yang segalanya harus sempurna.
Ada rasa bersalah tatkala dulu begitu dengan mudahnya saya menjudge Murabbi, menyalahkannya karena tidak bisa menghidupkan halaqoh. Padahal menghidupkan halaqoh bukan hanya tugas seorang Murabbi namun peran serta Mutarabbi lah yang paling penting. Ketika dulu saya berfikir Murabbi adalah seorang yang sempurna, maka hari ini saya percaya bahwa sempurnanya seorang Murabbi adalah karena Mutarabbinya. Murabbi dan Mutarabbi adalah 2 hal yang saling keterikatan tidak  mungkin bisa melepaskannya satu sama lain. Hari ini mari kita syukuri siapapun Murabbi kita, karena beliau adalah seseorang yang telah Allah turunkan untuk mendampingi kita menuju jalanNya, seorang pahlawan yang rela meluangkan waktunya ditengah segudang aktivitas kehidupannya, seorang yang bersedia hadir meski ditengah cuaca yang terik, ditengah derasnya hujan, seorang yang amat sangat mengharapkan Mutarabbinya menjadi muslim yang taat, seseorang yang dalam do’a rhobitohnya selalu membayangkan wajah kita, seseorang yang kelak Allah pertemuakn kita kembali di JannahNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar